Siapa Bilang Jogja Nyaman apalagi Ramah ? (Part 1)

Sangat menyukai suasana selepas hujan apalagi klo itu sore hari, dan Yiiihaaaaaaaaaaa !!!  Itulah waktu yang tepat untuk jalan-jalan melepas penat, menghirup wangi tanah yang telah tersiram air dari langit ibarat aromaterapi alami yang diciptakanNya. Sore itu saya memulai sebuah petualangan. Sampai di selokan Mataram tepatnya sebelum warung Gudeg Yu Djum, saya disuguhkan sebuah pemandangan dan percakapan 2 orang laki-laki, ehm lebih tepatnya 2 orang pemuda hehehe.

“Tenang ja Mas, saya ikhlas koq, udah gakpapa” ujar pemuda X berulang-ulang  dengan tangan belepotan Oli plus peralatan otomotif masih tergenggam.

Lawan bicaranya pemuda Y berdiri disamping sebuah motor, klo dilihat dari ekspresi wajahnya, tersenyum lebar, agak malu, bahagia, terharu dan tanpa kata-kata , sambil terus menyodorkan uang 5ribuan atau 10ribuan *saya tidak terlalu mengamati. Ending ceritanya pun saya tak tahu…karena JJSAH(Jalan-Jalan Sore Abis Hujan) harus berlanjut  =)

Tapi dalam hati, saya berkata :

“Astaga Bang, gue suka gaya loe !!!”


—————————————————————————————————————————————————

Di sore yang sama , petualangan saya berakhir di depan Gedung Pusat UGM (Balairung). Di bawah payung besar berwarna biru, yang dilengkapi kursi taman dan meja, terbuat dari kayu, di dekatnya ada lampu taman khas UGM yang belum menyala, ditambah udara yang luar biasa sejuk dan segar, bukan karena selepas hujan tapi karena hutan kota yang tak seberapa luas di depan Balairung itu, orang Forestry biasa menyebutnya “Arboretum”.  (*jika anda termasuk civitas UGM atau orang Jogja pasti paham betul dengan suasana yang saya gambarkan diatas)

Sambil membuka Laptop , saya mengucap Basmallah, ritual OL sore itu saya mulai (^-^)/ * akses modem expired, terpaksa cari wifi gratis buat ngakses jurnal.

Sesekali bersliweran orang-orang yang sedang jogging sore hari, namun kali ini tak seramai biasanya , maklum abis hujan. Mungkin orang-orang lebih memilih menghangatkan diri di dalam ruangan daripada menghangatkan diri dengan lari.

Angin semilir, terkadang menjadi semilar (Alias angin gedhe hehe). Dan tanpa sadar payung abu-abu yang masih terbuka, yang terletak di kursi sebelah terbang berputar-putar menjauh. Dalam kondisi laptop menyala dan masih dipangkuan, saya tak kuasa berbuat apa-apa dan hanya sanggup menatap dengan terpana.

Di seberang sana seorang pemuda dengan dandanan khas mahasiswa, kaos oblong, celana pendek dengan panjang sampai bawah lutut, tas ransel, sepatu kets dan sebuah kamera XLR di tangan. Dengan gagahnya berhasil menggapai payungku yang berputar-putar.

Dan saya yang masih terpana (bukan kepada pemuda itu Lohh*, tapi pada payungku =)) Segera tersadar dan menghampiri sang pemuda.

Sambil sedikit membungkukan badan ala orang Jepang,  saya mengucap terimaksih.

“Iya, sama-sama” jawab pemuda itu dengan senyum  seraya memberikan payung abu-abu itu kepada saya.

Re..memory…

Dalam hati saya berkata :

 

“Aduh kak, saya belom sempat tahu namamu “ *halah ;D



—————————————————————————————————————————————————

Masih seputar hujan, setelah melewat perempatan UPN ring road, tiba-tiba hujan cukup deras turun, memaksa kami (saya dan seorang teman) yang sedang mengendari motor untuk berteduh. Di bawah sebuah pohon yang tidak terlalu rindang disampingnya ada sebuah gerobak tambal Ban, seorang laki-laki dengan semangatnya mempersilakan saya untuk berteduh .

“Mari sini-sini mbak, nanti kehujanan loh, bisa sakit !!! ” kata laki-laki itu

Saya pun membalas dengan senyuman dan jawaban “ iya Pak, terimakasih, terimakasih” sambil meneduhkan badan di bawah terpal biru yang tidak terlalu kokoh, sembari menunggu teman saya mengeluarkan rain coat dari dasbor motor.

Di dalam gerobak ternyata ada seorang ibu-ibu, nampaknya seorang ibu muda dengan seorang bayi ada disampingnya, tidak mau kalah dengan laki-laki tadi (sang suami sepertinya), dia juga dengan sangat ramah mempersilahkan saya untuk berteduh.

Ternyata temanku hanya membawa sebuah mantel baju yang hanya bisa di pakai oleh seorang saja. Dan tak disangka laki-laki tadi menawarkan sebuah mantel biru kepada saya, sembari berkata

“dipake aja mbak…udah gapapa, daripada kehujanan, nanti sakit”

“Saya IKHLAS koq, udah dibawa aja”

Blarrrrrrrrrrrrrr, kaget tak karuan, baru sekian menit kami bertemu bahkan kami pun tidak saling mengenal, tapi laki-laki ini begitu tulus memberikan apa yang dimilkinya pada saya.

Sekilas nampak dari penampilannya bahwa keluarga kecil ini berasal ekonomi bawah. Walaupun miskin tapi mereka memilki hati yang kaya…

Dalam hati saya berkata,

“Saya iri !!! Kalian adalah Keluarga di Dunia dan InshaAlloh Keluarga di Syurga “

-to be continue-

~ oleh syamsa pada Desember 27, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: