Meretaskan Harapan dalam Keterbatasan

Keinginannya sederhana, hanya ingin bermanfaat untuk orang lain.


Rabu (22/09), siang itu Jogjakarta sedikit mendung. Awan tebal menyelimuti hiruk pikuk kota yang tak pernah lumpuh dari aktivitas mahasiswa. Tak seperti biasa, Fakultas Farmasi UGM terlihat sepi. Di sekitar ruang kuliah III, di samping pohon kakao tampak Datsun, kendaraan roda empat menepi. Dari ruang kelas, terlihat pria berusia sekitar 60 tahun turun dari kendaraan itu. Tangan kanannya tak lepas dari tongkat berwarna coklat tua. Di satu sisi, tangan kirinya menggenggam portable oxygen. Nafasnya terengah mengiringi langkah kecilnya tertatih menuju ruangan kelas. Pria tersebut adalah Didik Gunawan, dosen Farmasi UGM, ahli dalam bidang tanaman obat.

Bagi pria berperawakan gemuk itu, bidang yang digelutinya penuh akan tantangan. Baginya, tanaman obat adalah karunia Tuhan yang tak terhingga dan sangat disayangkan jika terlantar. “Jika ditengok sejarahnya, ilmu pengobatan pun muncul di dunia dimulai dari tanaman,” tuturnya.

Semangat kerjanya telah tertanam semenjak mahasiswa. Sembari mengenang masa lalu, ia berkisah seputar kehidupan kuliahnya dulu. Semasa kuliah, pria humoris itu harus menutupi biaya kuliahnya sendiri. Berbagai pekerjaan dilakoni, mulai dari pelayanan pembuatan diktat kuliah bagi seluruh mahasiswa farmasi, melayani jasa pengetikan skripsi, membuka usaha ternak ayam broiler. “Setiap minggu saya menyembelih 100 ekor ayam dan itu saya kerjakan sendiri,” kenangnya. Bahkan ia pun pernah menjadi sopir antar jemput karyawan di PT Kimia Farma Malioboro.

Kerja keras mengantarkannya mengawali karir tahun 1978 sebagai asisten dosen. Setelah menempuh pendidikan profesi, ia sempat menjadi tenaga edukasi di farmasi. Namun, tugasnya hanya sebatas menjaga praktikum, membuat jadwal praktikum, menguji pre tes, dan responsi. Karena merasa tidak nyaman, Didik melanjutkan study S2. Nasib kembali belum berpihak padanya. Dengan gelar master yang disandangnya, ia pun belum diberi kepercayaan mengajar.

Tahun 1980, keberuntungan menghampiri. Ia diangkat sebagai kepala perpustakaan farmasi hingga awal 2010. Pada 1988, Didik mendapat tugas dari universitas untuk menimba ilmu di sekolah multi media dan pembuatan bahan ajar di Jakarta. Bermodal pendidikan yang ditempuh, ia berhasil membangun jaringan komputer menggunakan fiber-optic di seluruh farmasi. Ia pun menjabat sebagai Kepala Bagian Pendidikan dan Pengajaran Program Studi Ekstensi farmasi.

Profesinya di bidang akademik diimbangi dengan kegemarannya menulis. Ia seringkali menulis karya ilmiah dalam jumlah tak terhitung banyaknya dan beberapa telah dipublikasikan. Sejumlah buku berhasil dirampungkannya, seperti buku Ilmu Obat Alam, Obat Tradisional untuk Keharmonisan Rumah Tangga, Obat Tradisional untuk Penyakit Asma, dan Obat Tradisional untuk Penyakit Kulit. Semuanya diterbitkan PT Panebar Swadaya Jakarta.

Kegiatan mengajarnya, tak hanya di lingkup UGM, ia menjajaki beberapa universitas swasta di Jogjakarta dan Solo. Diantaranya Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Sanata Darma, Universitas Islam Indonesia, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Namun, garis hidup berkata lain. Di tengah eksistensinya mengajar, Tuhan menurunkan penyakit gagal ginjal terminal di tahun 2005 dan mengharuskannya menjalani rawat inap selama enam bulan penuh. “Dalam sakit itu saya merasa bahwa banyak sekali kenikmatan yang diberikan Tuhan tiba-tiba saja ditarik kembali dalam sekejap,” kisahnya.

Ingatannya kembali meraba masa silam. Tiba-tiba Didik teringat akan kebaikan kerabatnya yang senantiasa peduli padanya. Ia tak pernah menyana, mereka terus menggalang donor darah bahkan membantu dalam segi materi pengobatan. “Kondisi saya saat dirawat di rumah sakit selama enam bulan itu membuat kondisi ekonomi keluarga mengalami paceklik,” terangnya. Dari situlah ia merasa harus mengembalikan kebaikan budi kerabatnya dalam bentuk lain, yaitu terus semangat menjalani hidup walau dalam ketidaksempurnaan jasmani. Matanya seringkali berlinang ketika teringat masa tersebut.

Kehidupannya pun berubah, ia tak lagi mengajar di berbagai tempat. “Sekarang saya mencurahkan konsentrasi di kandang sendiri, di Farmasi UGM,” tandas Didik. Buku Tumbuhan Obat yang sedang dalam proses dan rencana akan dicetak dalam empat jilid pun kandas. Hingga saat ini, pria berjenggot itu harus menjalani Hemodialisis (Cuci darah) tiga kali seminggu.

Tak hanya kenikmatan mengajar, kenikmatan beribadah pun banyak dicabut sang Maha Kuasa. “Saya tak lagi kuat berpuasa, bersembahyang dengan berdiri, menunaikan sholat jumat dan mendengarkan khotbah dengan bersila,” tuturnya. “Setiap tahajud saya seringkali meratap dan memohon agar Allah berkenan memberikan kesempatan atas kenikmatan yang tersisa ini untuk tidak dicabut. Dalam hati saya berniat ingin bersungguh-sungguh untuk bisa mendatangkan manfaat bagi orang lain,” kisahnya menambahkan. Ia bersyukur karena Tuhan rupanya mengijabahi doanya. Sehingga, kini ia dapat mengabdikan hidupnya bagi kemaslahatan orang banyak.

Dalam sakit yang dideritanya, ia begitu mengagumi sosok istri yang menjadi driver force dalam hidupnya dan senantiasa mendampingi dalam segala situasi. Ia pun menyimpan secuil keinginan agar dapat menuntaskan kedua anaknya lulus menjadi dokter. “Saya ingin menyaksikan anak-anak saya membina rumah tangga,” harapnya. Dalam kondisinya saat itu, keinginannya kian berkembang untuk melayani orang lain dan mendatangkan manfaat bagi siapapun. “Satu-satunya cara yang bisa saya lakukan, ya menyebarkan ilmu melalui mengajar,” ujarnya.

Dalam keterbatasannya, ia selalu berkeinginan untuk bermanfaat bagi orang lain. Ia tetap mengajar agar otak yang telah terisi pengetahuan tidak layu karena kondisinya yang tak berdaya. Walau dengan nafas terengah dan harus didampingi obat-obatan. Semangatnya pun banyak menjadi inspirasi pengajar lain. Harinya disibukkan dengan kegiatan menulis dan disalurkan dalam sebuah blog Obat Tradisional Indonesia (Obtrando). Didik pun membuka konsultasi bagi siapapun yang berminat. Semua itu dijalani tanpa imbalan apapun.

Walau berada dalam keterbatasan fisik, semangatnya tak pernah pudar. ‘Senyum untuk semua’ adalah moto hidupnya. Istrinya yang setia adalah motivasi terbesarnya. Satu hal yang harus disadari bahwa untuk meningkatkan derajat seseorang, harus dilandasi usaha/ikhtiar. Kadang bentuk usaha tersebut dapat berupa suatu penderitaan. Bila ingin mendapatkan madu harus berani menghampiri sarang lebah,” pesannya. Inilah bingkaian pesan yang ingin disampaikannya untuk generasi muda saat ini.

Untuk bisa lulus ujian, kita harus belajar,
Untuk bisa dihormati, kita harus menghormati orang lain,
Untuk bisa menuai, kita harus menanam dan rajin merawatnya,
Untuk bisa menuju ke seberang, kita harus rela bersulit-sulit mendayung perahu,
Untuk bisa sukses, kita harus bisa merasakan sakitnya sebuah kegagalan,
Jangan menjadi sombong, jangan takabur, karena di atas sukses masih ada sukses…

* re-post from Majalah “Kabare KAGAMA” edisi 19 November 2010.

~ oleh syamsa pada Desember 21, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: