Amankah pembalutmu ??? -DIOKSIN dalam Pembalut Wanita-

Penulis asli Prof. Dr. Zullies Ikawati,Apt. dosen Fakultas Farmasi UGM dengan judul asli “Dioksin dan Pembalut Wanita”, ditulis ulang dengan beberapa gubahan  oleh Risa Rahma Fitriany c.S.Si (calon Sarjana Sain) ^^ mahasiswi  Fakultas MIPA UGM.

Siapa yang tidak menegenal pembalut wanita? Terutama bagi mereka perempuan yang sudah balig, namun jarang orang mengenal tentang DIOKSIN. Lalu apa hubungan antara dioksin dan pembalut wanita ? chekidot guys…

Hal yang meresahkan sempat beredar sejak 10 tahun yang lalu tentang pembalut yang mengandung Dioksin, ternyata bukan hanya pembalut saja, diaper atau yang lebih dikenal dengan popok serap bayi (pampers) diduga juga mengandung dioksin. Bahkan pernah beredar rumor lama bahwa pembalut wanita yang mengandung dioksin dikaitkan dengan kejadian kanker servix.

Sebelumnya ada sedikit cerita unik tentang sejarah pembalut  wanita. Mungkin saat ini kita tidak terlalu repot ketika datang bulan dengan banyaknya merk dan variansi pembalut yang ditawarkan oleh produsen. Well pernahkan anda memikirkan bagaimana wanita dahulu kala ketika mereka datang bulan ?

  • Dimulai dari zaman Mesir Kuno, orang Mesir kuno sudah mengenal pembalut yang pada saat itu masih terbuat dari daun papyrus yang dilembutkan dan bentuknya seperti tampon. Lalu berkembang di Yunani kuno dengan menggunakan bahan kapas halus dan dan dibungkus kayu kecil. Berbagai macam bahan yang digunakan untuk pembalut wanita seperti rumput kering , wol, kapas, kain bekas, maupun serat sayuran. Bentuknya yaitu dimasukan kedalam kantong dan diselipkan di antara kedua kaki.
  • Pada tahun 1867 ditemukan menstrual cup (mangkuk menstruasi). Mangkuk ini diletakan kedalam kantong kain yang dihubungkan dengan belt yang diikat di pinggang. Pada saat itu, wanita tidak menggunakan apa-apa dibalik roknya, sehingga jika sedang menstruasi, mereka memakai pembalut tersebut.
  • Pada tahun 1876, bahan dari mangkuk menstruasi tersebut diganti bahannya menjadi bahan karet yang memungkinkan dapat menampung darah haid, lalu terus mengalir melalui selang menuju ke kantong penampungan yang digunakan diluar badan. Namun, yang menggunakan menstrual cup hanya orang-orang tertentu saja. Orang miskin masih menggunkan kain yang bisa dicuci sehingga bisa dipakai berulang kali, karena mereka tidak sanggup membeli menstrual cup.
  • Barulah pada perang dunia pertama, cikal bakal disposable pads (pembalut sekarang ini) ditemukan. Seorang perawat Perang Dunia pertama, ketika itu mereka menyadari bahwa pembalut yang mereka gunakan untuk membalut luka tentara ternyata bisa mereka gunakan ketika haid. Lalu pada tahun 1900-an, disposable pads dibuat.
  • Pada tahun 1920, Kotex adalah brand pertama untuk pembalut yang dilaunched di Amerika.
  • Inovasi pun terjadi. Pada tahun 1960-an, pembalut yang menggunakan belt mulai digantikan dengan pembalut yang menggunakan lem. Lem tersebut berfungsi untuk menahan pada bagian bawah celana dalam. Bahannya pun diganti, yang awalnya memakai bahan wood fiber dan cotton fiber, hingga bahan-bahan lainnya seperti jel.

 

Lalu apa itu DIOKSIN? Mari kita berkenalan

Dioksin merupakan bahan pencemar lingkungan dan sangat beracun. Percobaan telah menunjukkan bahwa dioksin dapat mempengaruhi sejumlah organ dan sistem. Setelah dioksin memasuki tubuh, mereka bertahan lama karena stabilitas kimia dan kemampuan mereka untuk diserap oleh jaringan lemak, di mana mereka kemudian disimpan dalam tubuh. Waktu paruh mereka di dalam tubuh diperkirakan 7-11 tahun. Nama kimia untuk dioksin adalah: 2,3,7,8 – tetrachlorodibenzo para dioksin (TCDD). Ada 419 jenis senyawa sejenis dioksin yang telah diidentifikasi, tetapi hanya sekitar 30 di antaranya yang dianggap memiliki toksisitas yang signifikan, dimana TCDD adalah yang paling beracun.

Dioksin merupakan produk sampingan utama dari proses-proses industri, tetapi juga dapat merupakan hasil dari proses alam, seperti letusan gunung berapi dan kebakaran hutan. Dioksin merupakan senyawa samping yang tidak diinginkan dari berbagai proses manufaktur termasuk peleburan, pemutihan klorin pulp kertas dan pembuatan beberapa herbisida dan pestisida. Dalam hal pelepasan dioksin ke lingkungan, insinerator limbah yang tidak terkontrol (limbah padat dan limbah rumah sakit) sering menjadi penyebab utama karena pembakaran yang tidak sempurna. Meskipun pembentukan dioksin adalah lokal, distribusinya ke dalam lingkungan bersifat global. Dioksin ditemukan dalam lingkungan di seluruh dunia. Tingkat tertinggi dari senyawa ini ditemukan pada sedimen, tanah dan makanan, terutama produk susu, daging, ikan dan kerang. Tingkat yang sangat rendah ditemukan pada tanaman, air dan udara.

 

Dunia mencatat beberapa kasus terkait dioksin:

  • Pada tahun 1998, Maret,  tingginya tingkat dioksin dalam susu yang dijual di Jerman terlacak pada pelet pulp jeruk yang digunakan sebagai pakan ternak yang diekspor dari Brasil.
  • Pada tahun 1999, tingginya tingkat dioksin ditemukan pada unggas dan telur dari Belgia.
  • Pada tahun 2004, di Belanda deteksi peningkatan kadar dioksin pada susu.
  • Pada tahun 2006, di Belanda peningkatan kadar dioksin terdeteksi dalam pakan hewan.
  • Pada akhir tahun 2008, Irlandia menarik produk daging babi dan produk daging babi yang terdeteksi mengandung dioksin 200 kali diatas batas aman.
  • Kasus yang paling popular yaitu tentang Presiden Ukraina Viktor Yuschenko, diduga keracunan dioksin melalui makanan, sampel darahnya mengandung 100.000 U/gram TCDD, suatu kadar tertinggi kedua yang pernah tercatat pada manusia. Akibatnya beliau terkena lesi kulit, seperti chloracne (sejenis jerawat akibat paparan senyawa halogen, termasuk dioksin) dan penggelapan warna kulit, dan gangguan fungsi hati.
  • Kelompok yang paling sensitif terhadap paparan dioksin adalah janin yang sedang berkembang, bayi baru lahir serta sistem organ yang sedang berkembang dengan cepat

 

 

Pembalut wanita mengandung dioksin?

Pembalut wanita dan tampon (termasuk diaper bayi) yang banyak beredar saat ini umumnya terbuat dari katun, rayon, atau campuran rayon dan kapas. Rayon terbuat dari serat selulosa yang berasal dari pulp kayu. Nah, untuk mendapatkan bahan baku rayon untuk tampon dan pembalut ini, umumnya perlu dilakukan proses pemutihan pulp kayu (bleaching) dan pemurnian. Di bawah ini ada beberapa cara pemutihan:

  1. Pemutihan menggunakan gas klorin. Proses ini dapat menghasilkan dioksin sebagai produk sampingannya. Proses ini digunakan oleh pemasok bahan baku rayon untuk tampon di masa lalu. Diperlukan beberapa proses berikutnya untuk menghilangkan dioksin. Di Amerika, proses ini tidak boleh lagi digunakan oleh produsen pembalut wanita atau tampon dan sanitary napkins lainnya.
  2. Pemutihan yang bebas elemen klorin. Pemutihan ini tidak menggunakan gas klorin, tetapi menggunakan hidrogen peroksida. Proses ini tidak menghasilkan dioksin sebagai kontaminan, sehingga sering pula disebut proses pemutihan bebas dioksin.

Dari sinilah nampaknya kemudian muncul rumor bahwa pembalut wanita mengandung dioksin.

 

 

Percobaan sederhana

Sebuah saran yang tersaji pada website YLKI mungkin bisa dicoba untuk menguji kualitas produk yang digunakan ( http://www.ylki.or.id/consults/view/121 ). Anda dapat melakukan pengetesan apakah pembalut yang anda beli aman atau tidak, sbb:

Sobek produk pembalut Anda, ambil bagian inti dalamnya. Ambil segelas air putih. Usahakan gunakan gelas transparan sehingga lebih jelas. Ambil sebagian dari lembaran inti pembalut Anda dan celupkan ke dalam air tersebut. Aduk dengan sumpit. Lihat perubahan warna air (karena kalo higienis dan bersih, seharusnya air akan tetap jernih). Lihat apakah produk tersebut tetap utuh atau hancur seperti pulp. Jika hancur dan airnya KERUH, berarti Anda menggunakan produk yang kurang berkualitas, dan banyak mengandung zat pemutih (DIOXIN).

Tapi terus terang ini tidak bisa menjamin apakah dengan cara ini kita bisa memastikan produk tersebut mengandung DIOKSIN atau tidak, karena kandungan dioksin tidak akan terdeteksi oleh pandangan mata biasa, apalagi jika kadarnya kecil karena analisis dioksin memerlukan instrumen yang memadai

 

 

Kalaupun pembalut mengandung dioksin, bagaimana ia bisa terpapar pada manusia menyebabkan kanker servix?

Menurut tulisan yang tersebar luas, termasuk pada website YLKI diatas, dikatakan bahwa dioksin bisa terserap ke dalam rahim dengan cara sbb:

Bila darah haid (bersifat panas) jatuh ke permukaan pembalut , maka zat dioxin akan dilepaskan melalui proses penguapan. Uap tersebut pertama-tama akan mengenai permukaan vagina, kemudian diserap ke dalam rahim melalui saluran Serviks, lalu masuk ke uterus, melalui tuba fallopi dan berakhir di ovarium.Sehingga menyebabkan : kanker leher rahim, gatal2, myoma dll.

Tapi perlu diketahui berdasarkan informasi terpercaya mengenai profil dan sifat-sifat dioksin (http://ntp.niehs.nih.gov/ntp/roc/eleventh/profiles/s168tcdd.pdf), titik didih (boiling point) dioksin adalah 446,5 derajat celcius !! Ia tidak larut dalam air, dan lebih larut dalam pelarut organic. Sehingga bagaimana ia bisa bercampur dengan darah haid, apalagi kemudian menguap dan uapnya masuk ke dalam rahim? Masih menjadi pertanyaan besar ?

Sebagai komparasi dipaparkan penjelasan dari salah satu produsen yaitu, Kotex (http://www.kotexfits.com/faqs/products/#a13 ). Dalam hal ini produsen menjelaskan bahwa bahan yang digunakan dalam tampon dan pembalut Kotex ® diputihkan menggunakan Elemental Chlorine Free (ECF), proses yang secara signifikan mengurangi potensi untuk pembentukan dioksin pada proses pemutihan. Menggunakan studi analitis yang sangat sensitif, laboratorium independen tidak dapat menemukan dioxin yang dihasilkan oleh proses pemutihan di tampon Kotex ®.

Sehingga dalam tulisan ini pun Prof. Zullies Ikawati berasumsi bahwa produsen-produsen besar tentu tidak akan gegabah untuk menggunakan proses pemutihan yang menghasilkan dioksin, mengingat bahwa concern tentang ini sudah sangat tinggi di negara-negara maju dan pelanggarannya sudah bisa masuk ranah hukum. Namun tentu tetap diperlukan upaya sistematik dari pihak berwenang untuk bisa memantau dan mengawasi masalah dioksin ini, tidak hanya pada produk pembalut wanita atau diaper, tetapi juga produk makanan.

So girls don`t be panic about this, apalagi sampai termakan iklan untuk membeli produk-produk yang sangat mahal dengan embel-embel bebas Dioksin. Namun begitu kita hendaknya harus tetap waspada. You know that “Rahim” adalah salah satu asset berharga yang dikaruniakan Tuhan kepada wanita. Sebagai bentuk kesyukuran maka hendaklahlah kita menjaganya  =)

 

Sumber :

http://zulliesikawati.wordpress.com/

http://id.shvoong.com/humanities/history/1867599-sejarah-pembalut-wanita/

http://www.ylki.or.id/consults/view/121

http://ntp.niehs.nih.gov/ntp/roc/eleventh/profiles/s168tcdd.pdf

http://www.kotexfits.com/faqs/products/#a13

~ oleh syamsa pada November 23, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: