Panjaaaaaaaaang… gak yach???


“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakan perhiasannya(auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya…” Q.S. An-Nur 31


” …seseorang di katakan akhwat (cewek berjilbab.red) dilihat dari 2 hal, panjangnya jilbab plus kaos kaki” pernyataan seorang penulis -kayaknya sich ikhwan(cowok.red)- yang aq kutip dari sebuah buletin Lentera terbitan tahun 2005.

Malam sebelum tidur tiba-tiba aq tersenyum -hihi…kayak orang gila senyum2 sendiri- setelah aq membaca artikel diatas. Bahkan ada sebuah celetukan yang membuatku tidak tersenyum lagi?! Malah tertawa haha…

Akhwat

itu untuk yang jilbabnya besar, kalau agak kecil itu akhwit, nah kalo kecil itu ikhwit, kalau kecil bangeet itu uikhwit.


Kenapa mesti panjangnya jilbab??

Kenapa mesti besarnya jilbab??


Berdasarkan pengamatanku terhadap sample teman2 sekelasku di kampus, dari ±40 orang cewe’berjilbab dikelasku berdasarkan celetukan diatas :

20% dapat dikategorikan akhwat

40% dapat dikategorikan akhwit

Dan sisanya aq masih bingung untuk merepresentasikannya ke dalam kategori ikhwit atau uikhwit.

Klo ditanya aq masuk dalam kategori apa??

Berdasar style berjilbabku seperti di bawah ini terserahlah orang akan mengkategorikan apa…


Dari sekitar 14jilbab segi empat berukuran ±115cmX115cm yang aq punya aq selalu memakainya dengan cara melipat jilbab segi empat tersebut kurang lebih 2 sampai 2,5 jengkal ke belakang (artinya, aq tidak melipat jilbabku menjadi sebuah segitiga dengan ujung saling berimpit) -bagi mereka cewek2 yang biasa memakai jilbab segi empat pasti bisa membayangkan n mengerti yang aq maksud, sorry bagi para cowok yang mungkin membaca artikel ini pasti sedikit roaming…^_^)- sehingga dada dan sebagian besar pinggulku tertutup oleh jilbab. Oya aq juga punya 4 buah bergo (maaph bukannya mw pamer he3) yang masing2 mempunyai lebar lingkar ±90cm yang memungkinkan dada dan sebagian besar pinggulku juga tertutup.


Kenapa mesti panjangnya jilbab??

Kenapa mesti besarnya jilbab??


Terlalu banyak kisah yang telah ALLOH tunjukan, dimana seorang wanita melepas jilbabnya hanya karena tuntutan kerja sampai tuntutan mode atau karena tekanan batin sampai tekanan fianansial.

Jadi teringat sebuah kejadian, seorang penulis terkenal yang karya2nya sudah terkenal juga sebut saja dengan inisial AN, beliau seorang penulis fiksi, yang novel2nya beraliran Islami. Bisa dibilang penulis wanita ini adalah seorang akhwat yang identik dengan jilbab panjang. Tidak sampai melepas jilbabnya hanya memendekan. Mungkin karena suatu entah itu kekecewaan atau tekanan, beliau memendekan jilbabnya bahkan gaya berpakaiannya pun berubah. Hal ini membuat beberapa pengagum beliau(yang kebanyakan akhwat) menjadi kecewa., salah satunya adalah temanku sebut saja si X. suatu saat setelah membaca artikel tentang AN,dia bercakap-cakap dengan si Y(seorang akhwat juga).

X : ehm…aq mw istiqomah ja dengan jilbab segini!

Y : jangan!!! Klo masih mw dipanjangin, panjangin ja lagi


Hehm…sepi senyum senyap setelah aq mendengarkan bercakapan mereka ber-2


Atau banyak celetukan yang lain..

“…kenapa yach klo dah jadi Umi-Umi rada cuek ma kaos kaki?”

“…klo dah jd Umi jilbabnya koq ga’sepanjang waktu dulu ya?”

“Biasa akhwat2 dah laku…diobral dech….”


Maha Besar ALLOH yang telah menurunkan setiap kejadian dengan hikmah…

Kenapa mesti panjangnya jilbab??

Kenapa mesti besarnya jilbab??


Pertanyaan diatas aq ulang kembali…

Karena seseorang tidak layak hanya dilihat dari kulitnya saja…


Seorang ikhwan pernah memberikan sebuah taujih

“…jilbabilah hatimu, baru kemudian jilbabilah auratmu!!!”

Seberapa panjang jilbabmu tidak masalah yang pasti syar’i sesuai dengan Q.S.An-Nur:31, Al Ahzab:59(buka mushafnya ya!). Masalah panjangnya jilbab itu masalah kenyamanan juga, da yang nyaman dengan jilbab cukup menutup dada saja, da yang nyaman dengan jilbab lebar hingga setengah badan, atau jilbab sangat panjang dan lebar bahkan menutup sebagian muka. Bukan masalah. No problem yang penting syar’i.


Kenapa mesti panjangnya jilbab??

Kenapa mesti besarnya jilbab??


Sekali lagi pertanyaan diatas aq ulang kembali…

Karena panjang dan besarnya jilbab tidak menjamin panjangnya keistiqomahan dan besarnya keteguhan seseorang dalam mempertahankan jilbab.





~ oleh syamsa pada Juli 23, 2008.

8 Tanggapan to “Panjaaaaaaaaang… gak yach???”

  1. iya ukh..ane merasa..bahwa kualitas seoarng akhwat itu tidak dilihat dari besarnya jilbab..tapi minimal besarnya ketaqwaan itu dalam dirinya…dengan sendirinya..ketaqwaan itu akan melebur dalam dirinya..berpengaruh bagi yang lainnya…dan bisa membentuk pribadi2 yang dengan istiqomah..berada di jalannya…
    seperti sang murabbi qta…murabbinya umat islam sepnjang masa..Rasulullah SAW…yang dengan pribadinya yang begitu mulia..bisa begitu berpengaruh pada banyak orang di bumi ini…

  2. ehm… yups I agree with you Ukh…

  3. hah ga mudeng. apaan tuh lipetan segi3 ma segi4. untungnya aku ga make haha

  4. atik posting juga di blog =)…
    dr lentera jogja 2005
    ” pseudo ikhwan”
    semoga bs menjadi pelajaran, lebih baik.

  5. Maaf sebelumnya, ikut berpendapat yaaaa…..

    Aku sepakat dengan pernyataan jilbabi dulu hati kita baru jilbabi aurat. Tapi tidak ada salahnya juga melakukan keduanya secara bersama2. Yang penting jilbab jangan sebagai kedok! BAHAYA itu!
    Aku juga sepakat jika berjilbab itu harus syar’i. Dan inilah yang erat kaitannya dengan niat dan tujuan berjilbab pada diri seseorang. Jika niatnya menutup aurat, pasti dia akan syar’i dalam berjilbab, style pakaian dan jilbabnya pun sopan, tidak semua serba panjang tapi hanya seperti kulit kita saja. Aku pun sedang belajar untuk itu, mari kita belajar….
    Namun, perihal akhwat dan ikhwan sepertinya ada yang perlu dikaji ulang. Coba lihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhwat artinya SAUDARA PEREMPUAN atau TEMAN PEREMPUAN. Nah, jadi tidak tergantung dia berjibab besar atau kecil, panjang atau pendek, bahkan ada akhwat yang tidak/belum berjilbab. Semua teman perempuan kita ya disebut akhwat meski dia belum atau tidak berjilbab.

  6. Saya kurang sependapat dengan Nori,
    “Aku sepakat dengan pernyataan jilbabi dulu hati kita baru jilbabi aurat. Tapi tidak ada salahnya juga melakukan keduanya secara bersama2” Menurutku dua2nya harus bersinergi (karena dua duanya mempunyai konsekuensi ketika seseorang sudah ter-taklif untuk melakukannya, tidak ada yang diprioritaskan), jika hati tidak dijilbabi akan berujung dosa, begitupun jika aurat tidak dijilbabi.

  7. setujuuuuuu

  8. setujuuu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: