Daun Yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin
Daun yang jatuh tak pernah membenci angin… Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya. Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditakuti. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawanya pergi entah ke mana.
Bahwa hidup harus menerima… penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti… pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami… pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.
“Ketahuilah Tania, aku bisa menghentikan hujan ini… Tetapi itu hanya bisa kulakukan jika aku tidak sedang dengan seseorang yang kucintai…. Dan malam ini aku sepertinya tidak bisa menghentikannya….” Adi serius menatapku.
*diatas adalah kutipan beberapa bagian dari Novel “Daun yang jatuh tak pernah membenci angin (The falling leaf doesn’t hate the wind) ” -Tere Liye








=)
ya iyalah mb..
kan gak punya mulut, gimana ngomongnya…,
hehhehheh….., ^_^
“daun yg jath sebenarnya, membenci angin tapi gak puya mulut so gak bisa ngomong..
sakarepmulah din …manut =)
suka ama karangannya tere liye juga ya…:) udah bca hafalan shalat delisa and bidadari” surga pastinya….hehe, sy jg suka sih dengan cerita tere liye yg menggugah meski dengan beberapa kekurangan pada tulisannya, overall overything is ok. what bout u?
yups-yups I agree witu you, Tere liye is so melankolis writer hihihi
.. dan perjuangan daun tidak berhenti disaat ia jatuh..
ia akan tetap memberi kontribusi pada pohon yang dulu memberinya kehidupan
Ohw..ohw…Nice quote kak… =)
buku yang bagus ya, risa…memberi pelajaran bagi kita untuk selalu ikhlas dari semua ketentuan…salam sukses untukmu…
saya juga sudah baca
ceritanya mampu mengaduk-aduk emosi
iya bu Bekti…sampai-sampai air mata berderai-derai =)
pripun kabar SMADA Ibu?